Bookmark and Share

Login Form



Sponsored Links


Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates

Welcome to Denzipur 3
Economics of Defense PDF Print E-mail
Written by budi santoso   
Monday, 21 November 2011 02:09

Today, Monday November 21st of 2011, i learn more about economic of defense. Today, it will focused more on the financing of defense. Now is 09.15. Mr kodrat, our teacher has arrive, and he began lecturing us. We are going to discuss about defense budget. Defense budget for 2012 is around 6,44 billion rupiahs. in 2011 it was about 5,03 billion rupiahs, or about 3 percent from the whole budget. But now is about 6-7 percent from the budget. Is it enough to preserve the need for defense? if we see the world defense spending form 1988 to 2006, after the cold war, instead the decline in the budget, we see the world have increased their defense for bugdet (from SIPRI Yearbook 2007). Actually, US is quit more, in 2004 they start to have 4 % by the senator Mc. Cain that the US defense budget in 2005 become 4 percent. From the table of to five military spender, US, UK, France, China, Japan are the amongst of the others. Two weeks ago, at the second day lecture, Mr. kodrat talk the important of G (Government spending). He said Y=C+I+G+(X-M) where G is a multiplier effect = 1/(1-b). Traingle Y= 1/(1-b) x Triangle G. So the triangle G = 64.4-47.5 billion rupiahs. If you think that we are reach country, you have to find where the money is. So the increase of government spending on defense will have multiplier effect on the country's economic growth. It was never before the allocation of defense budget reach above the 1 percent before the year of 2008. But, after the 'reformasi', the nation then realize that we need the strong defense to support the nation's interest. If we see the Data pokok APBN Indonesia 2006-2012, the budget for military spending is increased.

Benoit, E, on 'Defense and Economic growth in developing countries, 1973) conducted a cross-sectional analysis of 44 LDCs, and she concluded that the defense spending is the cause of the growth rate of civilian GNP. If we want to have faster economic growth, so we have to increase the military spending. But, how if the money were spent on buying the equipment directly form other countries? that is another matter that should be hindered. Another but, Travis Sharp on "tying US Defense Spending to GDP : Bad, Bad Policy" doesn't believe that military spending will increase economic growth. But, Mr. Kodrat say that if we do the spending locally and nationally effectively and efficiently the theory will work.Mr Kodrat say that we need to change the paradigm that the pure public good is defense.

Furthermore, if we see the 'Data Pokok APBN Indonesia 2006-2012' the growth of GDP will reach to 7 %, and the inflation will increase because the state spending on energy subsidy will decrease. Then, the state revenue from taxes have increased to further avoid a depend on natural resources revenue. I will continued latter.

Add a comment
Last Updated on Monday, 21 November 2011 04:04
 
KULIAH KERJA DALAM NEGERI - PULAU SEBATIK PDF Print E-mail
Latest
Written by budi santoso   
Tuesday, 04 October 2011 01:35

 

KULIAH KERJA DALAM NEGERI - PULAU SEBATIK

PEWAWANCARA: BUDI SANTOSO / IDU DM COHORT-3/ 120110201006

LAPORAN INDIVIDU

 

Title : Wawancara dengan Pak Haji Herman usia 48 tahun merupakan tokoh wirausaha dan politikus di Sebatik

Date/Time : 28/09/2011 19:28:57

------------------------------------------------------------

BIOGRAFI

Pak Haji Herman adalah salah seorang tokoh masyarakat di Sebatik yang sekaligus juga sebagai wirausahawan dan politikus. Ia lahir pada tahun 1962 di Kebalen Jawa Timur. Ia mempunyai darah keturunan dari suku Bugis. Istri pak H. Herman berasal dari suku Jawa tepatnya Surabaya. Pak H. Herman mendirikan usaha pertamanya di Kebalen Surabaya. Pak H.Herman datang ke Sebatik tahun 1979 pada usia 17 tahun. Usaha pak H. Herman pertama kali yaitu menjadi petani sawah serta menjadi nelayan dari tahun 1979 sampai 1982. Ditahun 1982 beliau ke Malaysia menjadi TKI sampai tahun 1984. Pada saat itu Pak H. Herman menjadi TKI di perkebunan coklat. Kemudian pada tahun 1985 Pak H. Herman kembali ke Sebatik.

IDEOLOGI

Tujuan dari Pak H. Herman untuk membuka/membangun daerah perbatasan, utamanya untuk meningkatkan Nasionalisme masyarakat supaya tidak berketergantungan terhadap Malaysia. Hal ini disebabkan karena Pak H. Herman sudah pernah merasakan bagaimana pahitnya hidup dinegara orang. Ia mengatakan bahwa penduduk yang sudah tidak ada disini (orang-orang lama yang sudah meninggal) itu mayoritas mantan TKI semua. Ia berpendapat bahwa tidak ada orang yang mau jadi TKI, kecuali karena terpaksa. Ia menunjukkan nasionalisme dengan berpindah dari Malaysia ke Sebatik. Menurutnya fasilitasnya di Malaysia sudah lebih dari cukup, akan tetapi ia lebih condong ke Sebatik karena ia sudah merasakan bagaimana pahitnya menjadi TKI, lebih-lebih TKW karena bisa jadi menjadi pelacur.

Untuk membangkitkan nasionalisme di Sebatik, kami mengadakan program tanah air pada setiap tanggal 17 Agustus. Kemudian anak-anak sekolah kami berikan pet merah putih. Pet merah putih tersebut Pak H. Herman yang menyumbangkan. Program cinta tanah air ini dilaksanakan dengan mengadakan lomba menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dihadiri oleh pelajar, petani maupun masyarakat lain di Sebatik.

POLITIK

Mengenai bidang politik, sekarang ini Malaysia mulai menarik masyarakat Sebatik agar menetap di Malaysia karena akanadanya pemilihan umum. Mereka diberikan fasilitas warga negara berupa IC (Identity Card). Setelah Pemilu, kemudian menang, masyarakat ini diabaikan, kemudian identitasnya dianggap palsu. Sekarang sudah mulai lagi karena Desember nanti mau Pemilu. Apabila politikus yang menarik masyarakat ini kalah, penduduk Sebatik yang pindah ke Malaysia ini identitasnya dianggap palsu setelah itu ditangkapi. Informasi ini Pak H. Herman dapat dari pejabat di Malaysia.

Perdana Menteri Malaysia yang sekarang ini yang mendukung adalah masyarakat Bugis di Malaysia. Begitupun dukungan Perdana Menteri ini kepada masyarakat Bugis cukup bagus.Keturunan bugis disana diberi keleluasan untuk membentuk organisasi, seperti persatuan Bugis. Jadi Pak H. Herman menilai bahwa itu bagus. Termasuk masalah konflik di Ambalat. Dahulu permasalahan di Karang Ungaran tidak ada, artinya Malaysia mengalah. Kalaupun ada kapal perang Indonesia disana, mereka tetap mengalah. Sepanjang perbatasan belum pernah ada gejolak. Artinya apabila ada keterkaitan dengan darah bugis, dia tetap akan membela. Tetapi kalau Anwar Ibrahim tidak cocok dengan Perdana Menteri karena Anwar Ibrahim adalah musuhnya. Alasan lain yaitu karena Anwar Ibrahim adalah didikannya Mahatir.

Partai Politik di Sebatik antara lainGolkar, PKB, Demokrat, PBB, serta PDI. Partai Politik yang dominan disini adalah PBB, Golkar, Demokrat. Diantara ketiga partai tersebut, partai PBB lah yang paling dominan. Saat ini Pak H. Herman mengikuti Partai PBB, akan tetapi pada Pemilu yang lalu Pak H. Herman tidak lolos verifikasi. Untuk langkah-langkah politik dalam rangka pemenangan pemilu, Pak H. Herman serahkan kepada masyarakat. Kalau memang Sebatik sudah dimekarkan, maka Pak H. Herman kembalikan kepada masyarakat apakah menginginkan Pak H. Herman menjadi pemimpin disini atau tidak. Tetapi kalau masyarakat tidak menginginkan, ia tidak permasalahkan. Itulah kenapa Pak H. Herman tidak berinvenstasi di tempat lain seperti misalnya di Makasar, karena Pak H. Herman telah berjanji untuk membangun Sebatik ini, dan hal ini selalu mengingatkannya.

EKONOMI

Untuk permasalahan ekonomi pak H. Herman terlebih dahulu menceritakan tentang kondisi perekonomian pada saat beliau datang pertama kali ke Sebatik. Saat Pak H. Herman kesini, disini belum ada jalan. Yang ada jalan didekat pantai. Pada saat Pak H. Herman kembali lagi ke Sebatik,ia berusaha memmembuka usaha, karena dahulu di Sebatik untuk hasil bumi pelemparannya tidak ada di wilayah Indonesia sekitar Sebatik. Pangsa pasar di Tarakan dan Nunukan saat itu tidak ada. Pangsa pasar yang ada saat itu hanya di Tawau. Setelah tahun 1984, sekitar tahun 1986, pengusaha Sebatik sudah mulai membuka akses ke Tarakan dan Nunukan, transportasi merupakan kendala pada saat itu. Saat itu yang ada hanya kapal-kapal kecil. Dimana untuk sampai ke Tarakan dibutuhkan waktu 2-3 hari. Dengan itulah hasil bumi seperti pisang, kelapa dan beras dari Nunukan dibawa ke Tarakan. Dahulu sekitar tahun 80an di Sebatik tidak terdapat toko. Oleh karena itu pada tahun 1984 para pengusahamulai membuka toko-toko. Pada saat itu Pak H. Herman sangat sedih sekali, karena kenapa di daerah negara sendiri produksi Sebatik tidak dikenal, justru produksi Malaysia dikenal. Akhirnya Pak H. Herman membuka toko-toko. Toko tersebut dilaksanakan pertama kali dengan sistem door to door. Untuk barang konveksi, Pak H. Herman membawanya dari tanah abang, kemudian di jual secara door to door ke kebun-kebun untuk mencari konsumer. Kalau penduduk di kebun tidak mempunyai uang tunai maka pengusaha took melaksanakan bisnis melalui sistem tukar/barter dengan pisang, kelapa, padi. Kemudian barang tersebut dikirim ke pabrik untuk digiling menjadi beras setelah dibawa ke Tarakan untuk dijual. Setelah itulah produksi pengusaha Sebatik mulai dikenal oleh orang luar. Untuk Pak H. Hermansendiri, ia mulai membuka pertokoan pada tahun 1988. Pada saat itu untuk kesediaan modal ia mengajukan kredit ke Bank BDN. Karena pada saat itu tidak boleh ajukan kredit kalau tidak ada usaha awal, maka Pak H. Herman membuat toko dibawah kolong rumah dengan ukuran sekitar 2,5 x 4m. Situ untuk toko Pak H. Herman dibuat di Bulungan, dimana jaraknya sangat jauh sekali. Pada saat itu di Nunukan masih berupa Kecamatan sehingga tidak ada kantor pelayanan untuk membuat SITU. Pada saat itu Pak H. Herman dibantu 10 juta. Pada saat itu Pak H. Herman merupakan nasabah BDN pertama di Sebatik bersama pak Haji Mori dan lain-lain.

Kemudian untuk masalah mata uang, Pak H. Herman merasa sedih sekali karena 100 % mata uang Malaysia beredar di Sebatik pada tahun 80an. Sehingga masyarakat Sebatik kalau mau pulang kampong, ke Tarakan atau ke Sulawesi harus menukar uangnya terlebih dahulu di Tawau. Hal ini membuat hatinya miris karena justru dinegara Malaysia terdapat Rupiah, sedangkan di Sebatik sendiri tidak ada. Oleh karena itu pada akhirnya Pak H. Herman membuka money changer untuk penukaran di Sebatik. Ia menarik uang tunai dengan mata uang Rupiah dari Tarakan agar dapat terjadi penukaran uang di Sebatik. Sampai sekarang Money Changer tersebut masih berdiri.

Perhatian pak H. Herman juga tidak lepas untuk meingkatkan permodalan di Sebatik. Pada saat diawal usahanya, ia menasehati kepada para TKI yang ada di Malaysia agar menabung di Sebatik. Saat itu akhirnya banyak para TKI yang menabung di Bank BNI sebatik. Jadi, walaupun mereka tidak bisa kembali ke tanah air, setidaknya mereka membantu saudaranya di tanah air dengan menambal permodalan bagi para usahawan di sebatik. Tabungan TKI ini sekarang telah mencapai total modal 5 milyar lebih sehingga sangat membantu bagi usahawan Sebatik pemula dalam memperoleh modal.

Sekarang, usaha Pak H. Herman di Sebatik yaitu membuka perkebunan kelapa sawit, Supermarket, property yang mana termasuk ruko-ruko yang ada di daerah sungai Nyamuk. Sekarang ini untuk lahan kelapa sawit di Sebatik sudah ada 6000 hektar, produksinya 800 ton per bulan. Sedangkan untuk Sawit produksi Pak H. Herman dibawa ke Tawau, karena disini pabriknya tidak memadai.

Pertokoan ini kontraknya 8 juta per tahun. Kalau Pak H. Herman dari awal sudah memikirkan untuk bisnis semata maka akan jauh lebih mahal. Dahulu daerah ini adalah kuburan, dahulu sesaat pertama kali Pak H. Herman kesini tidak ada yang berani lewat.

Kemudian Pak H. Herman buat rumah kontrak dari kayu sejumlah 67 unit dengan ukuran 4 x 14m. Satu bulannya untuk mengontrak Pak H. Herman kenakan biaya Rp. 170.000,-. Saat itu terdapat rata-rata 4 orang yang menyewa satu unit rumah kontrakan, sehingga hal ini menambah jumlah penduduk di Sebatik.

Untuk kedepan, Pak H. Herman berusaha daerah ini bisa ditingkatkan statusnya untuk mengimbangi negara tetangga. Apakah bentuknya itu Kotamadya atau Kabupaten. Hal ini disebabkan oleh satu kendala yang sangat mendasar, yaitu permasalahan birokrasi. Contohnya baru-baru ini Pak H. Herman mengadakan ulang tahun untuk Perusahaannya. Pak H. Herman mengadakan pertandingan yang namanya Kebalen Jaya Cup, yaitu berupa pertandingan Badminton. Pak H. Herman mengundang peserta dari Samarinda, Bandung,Surabaya, serta Malaysia yang berada di kota Kinabalu. Akan tetapi para peserta dari luar negeri tersebut terkendala oleh urusan pasport. Pasport tersebut tidak boleh di Cap di Sebatik. Pasport hanya boleh di cap di Nunukan, sehingga peserta yang akan menghadiri pertandingan ini harus datang ke Kota Nunukan terlebih dahulu. Begitupun dengan kegiatan lainnya, sehingga kegiatan apapun yang melibatkan masyarakat luar negeri harus terlebih dahulu datang ke Nunukan terlebih dahulu. Termasuk juga turis yang mau datang ke Sebatik, harus melalui Nunukan. Padahal untuk menempuh perjalanan dari Nunukan ke Sebatik membutuhkan waktu 3 jam, sedangkan dari Sebatik ke Tawau cuma 15 menit. Itulah salah satu kendala di Sebatik yang menyebabkan Sebatik sulit untuk berkembang. Padahal Sebatik mempunyai fasilitas seperti hotel sejumlah 4 buah, penginapan, kemudian fasilitas untuk pariwisata juga ada. Kalau Sebatik tidak dikembangkan, maka permasalahan tersebut tidak akan terselesaikan. Dengan arti lain tidak ada orang yang mau datang ke Sebatik. Hal ini mungkin dapat diatasi apabila fasilitas seperti kapal Feri dan jalan di nunukan diperbaiki dan ditambah sehingga memadai. Tetapi sampai saat ini hal tersebut tidak terjadi di Nunukan.

Oleh karena itu Pak H. Herman mengembangkan daerah Sebatik agar pemerintah pusat mempunyai semangat untuk membangun daerah ini. Karena kalau tidak ada bangunan seperti pertokoan di Sebatik maka kota ini akan seperti kota mati. Usahanya yang lain untuk mengembangkan daerah ini adalah kelapa Sawit. Pelopor kelapa Sawit adalah Pak H. Herman. Disini kelapa sawit sudah ada 6000 hektar. Masyarakat di Sebatik saat itu masih condong ke Coklat. Kelapa sawit disini baru 6 tahun. Kemudian usahanya yang lain yaitu mengembangkan penangkaran ikan laut yang namanya Bagan (penangkaran Ikan Milis di laut) dimana berasal dari Hindrasabah Tawau. Menurutnya di Malaysia, terdapat suatu tempat yang bernama Hindrasabah. Disini penduduknya mayoritas berasal dari bugis. Tetapi juga mayoritas penduduk ini hidup tanpa dokumen. Akan tetapi sekarang daerah ini telah menjadi perkampungan. Penduduk disini mengembagkan usaha yang namanya Bagan tersebut. Kemudian model Bagan tersebut oleh Pak H. Herman diusahakan untuk dibuat di Sebatik. Awalnya masyarakat di Sebatik pesimis karena ombak di Sebatik terlalu besar. Akan tetapi setelah Pak H. Herman paksakan usaha ini berhasil sampai sekarang. Ombak tadi yang diperkirakan tidak mendukung usaha Bagan, ternyata tidak sebesar yang diperkirakan.

Menurut pak H.Herman di Sebatik ini masih kurang lapangan pekerjaan. Hal ini menimbulkan suatu gejolak dimasyarakat masyarakat Sebatik yang banyak beralih profesi menjadi TKI. Padahal upah di Malaysia lebih rendah daripada di Sebatik Sendiri. Misalnya, untuk menombak kelapa sawit di Malaysia ongkosnya hanya 25 ringgit, sedangkan di kebun sawit Pak H. Herman sebanyak 30 ringgit. Oleh karena itu sebenarnya lebih menguntungkan untuk menjadi pekebun sawit di Sebatik. Akan tetapi untuk memperluas usaha ini Pak H. Herman terbentur masalah lahan. Pekerja Pak H. Herman di kebun sudah mencapai 50 orang dengan satu hektar untuk satu orang. Pekerja Pak H. Herman seluruhnya adalah mantan TKI. Lahan yang Pak H. Herman miliki sudah mencapai 500 hektar. Hal tersebut mengakibatkan banyak penduduk tidak tertampung untuk dipekerjakan. Jadi kalau memang di Indonesia banyak lapangan pekerjaan, buat apa para penduduk di Sebatik mencari lapangan pekerjaan di Malaysia.

Untuk pabrik kelapa Sawit, sudah ada satu buah yang dibangun oleh mantan Bupati Nunukan, tetapi pabrik ini tidak memdadai untuk menampung seluruh hasil kebun sawit yang ada di Sebatik. Pabrik ini mempunyai kapasitas 15 ton/jam. Kedepan Pak H. Herman sedang merencanakan untuk membangun pabrik yang dapat langsung menghasilkan minyak goreng. Tujuannya yaitu agar dapat menghentikan aliran minyak makan dari Malaysia, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada Malaysia. Menurutnya pengusaha Malaysia sering kali mempermainkan harga minyak dan harga ikan. Nelayan itu sering kali diperbudak. Kalau mau melaut, mereka mengambil uang ongkos, es serta minyak di Malaysia, sehingga mudah sekali nelayan diperbudak. Untuk mengurangi ketergantungan ini Pak H. Herman seringkali membantu nelayan untuk memperoleh kredit mesin. Nelayan ini juga mendapat bantuan dari Pemerintah. Pada tahun 2010 setelah Sebatik ini mekar mulai ada bantuan dari Pemerintah.

Menurutnya masalah lain di Sebatik adalah kurangnya daya wiraswasta. Lebih jauh menurutnya apabila pemerintah tidak bisa menggenjot usaha wiraswasta, maka pemerintah akan kesulitan untuk menggaji PNS. Karena semua masyarakat ingin menjadi PNS. Menurutnya pada tahun 2020 nanti kalau sistem yang sekarang ini tidak dirubah maka pemerintah akan kerepotan untuk menggaji PNS. Anggaran Kabupaten Nunukan untuk menggaji PNS menghabiskan 50 % dari dana APBD yang ada. Oleh karena itu Pak H. Herman berupaya dengan mengajarkan masyarakat Sebatik bagaimana caranya berbisnis

Masalah lain yang sekarang yaitu tentang tidak adanya fasilitas pelabuhan yang memadai, kurangnya pelayanan listrik, air bersih, infrastruktur jalan, serta pabrik es. Sedangkan kalau pariwisata, menurutnya lebih baik diserahkan kepada pengusaha. Untuk masalah pengangkutan laut, diperlukan adanya feri dari Sebatik ke Nunukan serta sebaliknya. Sedangkan untuk jembatan diperlukan 10 tahun kedepan. Kemudian untuk lapangan udara belum diperlukan disini apabila adanya angkutan feri dan infrastruktur jalan yang bagus.

Selain itu diperlukan juga Universitas di Sebatik. Disini sudah ada pesantren yang menampung anak-anak TKI tapi hal itu tidak cukup. Pendidikan setingkat universitas diperlukan didaerah ini agar masyarakat berpendidikan tidak keluar dari Sebatik.

Kemudian Masalah yang paling krusial lain adalah masalah pelayanan kesehatan. Di Sebatik untuk pelayanan kesehatan baru ada Puskesmas, sedangkan Rumah Sakit tidak ada. Masyarakat yang sakitnya darurat yang membutuhkan penangan cepat terpaksa diantar ke kota Tawau Malaysia. Sedangkan yang membutuhkan penangan medis lanjutan harus dibawa ke pulau Nunukan. Permasalahannya adalah pelayanan rumah sakit di Tawau sangat diskriminatif. Apabila petugas rumah sakit di Tawau menerapkan aturan yang ketat, maka pasien dari Sebatik tidak boleh dirawat di sana, sehingga pasien ini harus kembali dan mencari pelayanan di Nunukan, dimana hal ini sangat membahayakan bagi keselamatan dari pasien.

SOSIAL

Untuk masalah sosial kemasyarakatan, pada tahun 1979 saat ia datang ke Sebatik pertama kali, mayoritas masyarakat si Sebatik berasal dari Bugis. Sangat sedikit jumlah penduduk yang berasal dari suku lain yang ada di Sebatik. Suku lain yaitu suku Tidung serta dayak berada di Mentikas serta Blambangan. Tetapi kalau di daerah sungai Pancang, Sungai nyamuk, Tanjuaru, Sungai Bajo, dan Sungai Toa semuanya berasal dari suku Bugis. Untuk tokoh adat saat itu di sungai Panca namanya pak Abdulrahim, sungai nyamuk namanya pak Suratman oleh karena itu nama jalan di depan HOtel Queen dinamai jalan Suratman, kemudian Haji Made, di Tanjoharu namanya pak Haji Musa, dan yang terakhir di sungai Bajo namanya pak Lantas.

Mengenai konflik antar suku di Sebatik sekarang tidak pernah terjadi. Setiap tahun para tokoh masyarakat dan adat di Sebatik mengadakan silaturahmi. Pada tahun 2009 mereka membuat perjanjian atau ikrar dengan semua tokoh dan suku serta etnis, termasuk masyarakat dari Timor yang ada disni. Hal ini mereka adakan untuk mengantisipasi terjadinya konflik antar suku. Mereka berpendapat bahwa merka harus semeja dan prinsipnya masyarkat Sebatik adalah satu keluarga. Pertemuan ini disponsori oleh Pak H. Herman dengan difasilitasi oleh Muspika. Disini Pak H. Herman dikenal dengan nama Andeng (tahi lalat). Pengusaha Sebatik semuanya ia rangkul. Ia berprinsip bahwa bagaimanapun juga ia adalah pendatang. Oleh karena itu ia dan pengusaha dari suku Bugis lainnya berusaha terus membangun daerah Sebatik agar dapat menghilangkan imej bahwa pendatang itu hanya untuk menguasai. Tetapi usaha ini dibutuhkan kerjasama. Dan memang kenyataanya bahwa di Sebatik ini tidak ada yangmembuka selain para pengusaha dari suku Bugis.

BUDAYA

Untuk alat musik yang tersedia disini adalah kecapi dan padendang. Seni ini dikembangkan oleh tokoh masyarakat Sebatik terutama H.Herman untuk mencegah masuknya budaya Malaysia ke Sebatik. Kalau sudah panen, masyarakat merayakan panen tersebut dengan mengadakan perhelatan musik kecapi dan padendang. Akan tetapi di budaya di Sebatik ini kurang diangkat oleh pemerintah, karena tidak pernah ada program promosi budaya Sebatik oleh pemerintah.

PERTAHANAN DAN KEAMANAN

Untuk masalah pertahanan, yang Pak H. Herman pikirkan adalah Sebatik sebagai benteng terdepan negara NKRI, karena wilayah Sebatik yang berada di perbatasan. Saat belum adanya mercusuar di Karang Ungaran sering terjadi insiden dimana kapal nelayan sering ditabrak oleh kapal Malaysia, karena Malaysia mengklaim wilayah laut disini. Akan tetapi dengan adanya Mercusuar di Karang Ungaran Malaysia tidak berani lagi untuk melakukan klaim tersebut lagi. Menurutnya untuk pertahanan Militer sudah cukup di daerah Sebatik. Yang lebih penting sekarang menurutnya adalah meningkatkan pertahanan Ekonomi. Untuk ancaman militer dari Malaysia menurutnya kemungkinannya sangat kecil karena tidak akan didukung oleh grass root masyarakat di Malaysia, yang mana banyak penduduknya merupakan TKI atau keturunan Indonesia. Walaupun begitu Malaysia ia lihat tetap memperlihatkan kesiapan militernya terutama diwilayah Sampurna. Ia mengatakan bahwa Malaysia mempunyai 2 (dua) buah kapal selam di pelabuhan ini. Akan tetapi dari 2 (dua) kapal selam ini, satu unit berada dalam keadaan rusak dan sedang diperbaiki di Perancis. Tambah lagi, Malaysia mempunyai banyak kapal perang di pelabuhan tersebut. Suatu waktu ia pernah melihat pesawat (kemungkinan helikopter) mendarat dikapal tersebut. Pak H. Herman menganggap bahwa kapal perang yang didarati pesawat tadi adalah kapal Induk, kemudian ia mengkonfirmasi bahwa ia melihat kapal induk di sekitar pelabuhan Sampurna. Sekali waktu juga ia pernah melihat satu buah kontainer peti kemas mengeluarkan satu unit meriam besar dengan roda dua buah untuk di tempatkan di sekitar kota Tawau. Selanjutnya mengenai Askar Watanniah ia mengatakan bahwa askar ini merupakan pasukan cadangannya tentara regular Malaysia. Ia berpendapat bahwa sebagian besar dari anggota askar ini merupakan keturunan bangsa Indonesia, tapi sudah berkewarga negaraan Indonesia. Oleh karena itu ia tidak setuju dengan pendapat bahwa banyak warga negara Indonesia yang direkrut oleh Malaysia menjadi anggota askar Watanniah atau yang sejenisnya. Menurutnya para Askar ini digaji oleh pemerintah Malaysia, sehingga morilnya sangat tinggi. Akan tetapi bila ditanyakan kepada para anggota askar ini yang mempunyai asal usul keturunan dari suku di Indonesia apakah mereka mendukung Malaysia bila Malaysia berperang dengan Malaysia, H. Herman menjawab bahwa sebagian besar dari mereka akan keluar dari askar tersebut atau bahkan dari tentara regular bila ada.

Untuk masalah kriminalitas di Sebatik daratan sangat jarang terjadi, kecuali kriminalitas di wilayah lautan. Dilautan, seringkali kapal-kapal nelayan dirompak. Pelakunya sepertinya adalah orang Nunukan juga, karena tidak pernah perompak yang ditangkap orang Malaysia.Walaupun ada kapal patroli angkatan laut, tetapi patrolinya dilaksanakan terbatas, hal ini menyebabkan leluasanya para perompak melaksanakan aksinya diluar daerah dan waktu patrolinya dari jajaran Angkatan Laut maupun Polairud. Pak H. Herman sarankan agar anggota AL ikut nelayan agar dapat menangkap. Usaha ini pernah dilakukan tetapi seringkali informasinya bocor sehingga usahanya sering gagal.

 

Add a comment
Last Updated on Tuesday, 04 October 2011 01:41
 
The Egypt Crossing Suez Canal Battle Analysis PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 25 July 2010 14:48

       BATTLE ANALYSIS OF EGYPT CROSSING SUEZ CANAL (1973)

INTRODUCTION 

 In 1973, the Suez Canal was the scene of a decisive crossing by the Egyptian army into Israeli-occupied Sinai. The Bar-Lev Line along the East-Bank of Suez Canal was a complex fortified defense system that has the canal as a perfect obstacle for crossing, the embankment that limited entrance and exit from the canal to the light amphibious craft, and its strongpoints that overlooked the Canal and provided field of fire to both sides of the banks. At the Egypt Crossing Suez Canal on the 6th to the 7th of October 1973, The Egyptian Army led by El’Shazzly defeated the Israeli Army Southern Command. The Egyptian victory substantially weakened ,surprised and shocked the Israeli Army and the nation, forcing the Israeli to deal with two front; at the Golan Height with Syrian Army and at the Sinai with Egyptian Army, exposing the Israeli cities vulnerable to seizure, created Chaos on the Israelis, making the Israelis to have no other choice then to prepare a nuclear attack. United States was therefore forced to mediate a negotiation and imposed a cooperative United Nations ceasefire resolution and the Egyptian gained back its Sinai territory which had been captured and occupied by the Israelis since the 1967 Six-Day War.

         The Egyptian victory was largely due Shazzly employment of the principle of surprise and the tenet of speed in spanning the bridges despite the Israeli lack of effective communication system. The Egyptian use of Surprise contributed to a shocking assault on the East Bank that confused the Israelis and tear down their command and control. The Egyptian achievement of speed in spanning the bridges contributed to Egyptian success on reducing the gap to cross the tanks, vehicles, logistic supply and communications in supporting the assault forces, solidifying the bridgeheads and repelling the Israelis counter attack. Finally, The Egyptian lack of effective communication system contributed to a delay in mobilizing the reserve and a blindness in Israelis command structure that forced them to enter Egyptian killing zone on the East Bank and prevent them from counter attacking the Egyptian assault.

 

Phases of the Battle

The battle of Egypt crossing Suez canal (1973) can be divided into three distinct phases:

1) Phase I. The Egyptian Assault.

2) Phase II. The Egyptian seizure of the bridgehead lines.

Phase I

         On the battle’s first day, the Egyptian deployed two field armies abreast and a mechanized division as a reserve in the rear. The 2nd Field Army covered the area from north of Qantara to south of Deservoir, while the third Army received responsibility from Bitter Lakes to south of Port Tawfiq. On the other side, the Israelis placed an armored division from 252nd AD retaining the Bar-Lev Line to contain the initial attack and three reserve armored division positioned at Israel cities as mobile reserve to use turning movement as its counter attack form of maneuver by crossing back the Canal to cut enemy line of communication. The The initial phase of the battle were the events of 32,000 Egyptian dismounted personnel from five infantry divisions crossing the Canal and assaulting the Israeli Bar-Lev Line (Gawrych, 1996). Realized that conducting gap crossing operation on Suez Canal opposed by the Israeli complex defense system was the hardest operation of all, the Egyptian sought to find the right timing when weather is favourable and the Israeli is not in a prepared condition by deception move to give the Israeli a visualization that the Egyptian will not go for war. The Y Day decision was a political one. Presidents Sadat and Assad chose 6 October, a day when several factors were most favourable to the Arabs. This date fell during Ramadan, the month in which, according to the dictates of the Koran, Muslims fasted during the hours of daylight, and when the Israelis would probably least expect to be attacked (O'Balance, 1978, pp. 23, para 4). To divert further the Israeli attention on the imminent of war, the Egyptians concentrated their forces under cover of Exercise Tahir 73 (Liberation 73), the annual autumn maneuvers by which the reservists were called up towards the end of September with the promise of release by 8 October, kept the activity along the Suez Canal was kept as normal as possible, ordered soldiers to fish and to walk along the embankment without helmet, ordered civilians to work as usual, Ordered the officers and soldiers to take Ramadan holiday leave. Israeli intelligence also failed to attach significance to the fact that Tahir 73 was taking place in Ramadan, a time when Muslims avoid strenuous activity during Ramadan. On 5 October the Egyptians infiltrated several dozen reconnaissance teams, some dressed as Bedouin, across the Canal. They reported back, ‘The Israelis are asleep.’ (Dunstan, 2003). As its planned, on 14.00 hours at the 6th of October 1973, Shazzly began the assault by ordering the aircraft to fly suppressing the Israeli’s air defense, accompanied by the artillery indirect fire and tank direct fire to bombard the Bar-Lev Line. Shortly, the first eight of twelve waves crossed the Canal using rubber boats initialed by the wave of 8000 commandoes and infantry men to seize the east bank sand rampart as the far side objective.

         Caught by surprise, the Israelis of 68th Infantry Battalion of Jerusalem Brigade who manned the strongpoints took cover in shelters and didn’t return fire or overlook the Canal. After scaling the sand ramparts the Egyptian commandos units engaged the strongpoints, then the rest of infantry unit bypassed the strongpoints to seize the exit bank and move forward to seize intermediate objective 5 kilometers from the exit bank to from a hasty defensive position securing the foothold. The Israelis who manned the strongpoints began firing their automatic weapons six minutes before all of the first wave landed and took only 200 Egyptian soldiers. Then, the tank platoon of Israeli 68th Infantry battalion began move forward to their firing position, but only to be destroyed by the special ‘Sagger’-equipped Egyptian tank-hunting teams that were occupying the sand rampart. Within 40 minutes after scaling the ramparts, at 15.00 hours Egyptian Army Seized the Bar-Lev Line and captured Israeli soldiers, except one strongpoints in the north that called ‘budapest’ strongpoint (Dunstan, 2003, p. 40).

         Egyptian achievement of surprise by choosing the right timing and conducting deceptive move on the preparation led to the unprepared and chaotic condition of the Israelis, demonstrate the importance of Gap Crossing fundamentals. The element of surprise help a commander to established an unprepared condition on the enemy, disrupt their command and control, and reduce the existence of high risk in gap crossing operation.

This lesson is captured in modern United States Army doctrine. Field Manual (FM) 3-90.12, Combined Arms Gap-Crossing Operation, defines the importance of surprise as ”through surprise, the commander conceals his capabilities and intentions and creates the opportunity to position support and assault forces to strike the enemy unaware or unprepared” (FM 3-90.12, pp. 4-3). This element of gap crossing fundamentals conceals friendly forces capabilities and intentions then create a favorable condition for the assault forces to cross the gap and seize the far side objective while minimizing the risk of exposing the assault force to the enemy fire that overlooking the gap.

 Phase II

          After the first hour of the initial assault, seventy engineers groups began to ferry their pumps to the far bank to begin the task of scouring the 70 passages through the sand barrier and the breaches established in four hours (Gawrych, 1996, p. 28). At the same time in the south, 130th Marine Brigade of Egyptian Army with PT-76 Amphibious tank crossed to bypass Israeli Forces in the area of Milta and Gidi passes. The battalion heading toward mitla Pass ran into M-60 Patton tanks, and its PT-76 light tanks proved no match for the heavier American-made armor. The battalion sustained heavy losses and retreated in great haste. The second battalion passed through Giggi Pass to disrupt communications east of the passes. Remnants of the 130th Brigade managed to retreat westward to Kibrit East (Dunstan, 2003). At 17.30 hours, thirty helicopters departed and dropped four commando battalions deep inside Sinai to cut IDF line of communications (Shazly, 1980). The IAF (Israeli Air Force) aircraft scrambled to intercept the Egyptian helicopters and shoot down 14 of the commando’s helicopters. But the remaining survived and captured the Ras Sudar Pass south of Port Tawfiq and held it until 22 October. One company from 183rd Sa’iqa Battalion, landed along the northern route between Romani and Baluza and established a blocking position at 06.00 on 7th October. Two hours after the initial landing, ten Egyptian bridging battalion began placing bridges into the water. The Egyptians first erected ten dummy bridges about ten miles apart; then constructed the ten real bridges (two for each of the five crossing infantry division) made of Soviet-made PMP Heavy Folding Pontoon bridges. Ten hours into the operation, the first tank began crossing under cover of darkness to reinforce the bridgeheads. The Israeli Air Force targeted the bridges and destroyed 7 bridges, but the Egyptians engineers able to fix the bridges within minutes to functions again (Gawrych, 1996, pp. 28-29).

         Two hours late, At 16.00 hours the three brigades of the Israeli 252nd Armored Division moving forward without a clear picture of the developing battle. Colonel Gaby Amir commanding the 460th Armored Brigade moved in the north. Colonel Ammon Rehef’s 14th Armored Brigade moved westward in the center. While in the south, Colonel Dan Shomron commanding the 401st Armored Brigade was rushed through the Gidi Pass to a position south of the Great Bitter Lake. The three brigades ran into Egyptians killing zones and the Egyptians destroyed 80 percent tanks of the three brigades were destroyed. Early on the morning of the 7th, the three brigades was ordered to withdraw his force, evacuate the fortifications then concentrate on blocking the Egyptian advance (Dunstan, 2003). The Egyptian Army moved forward to the extent of 6 miles to the Sinai. The Israeli jets took off at 07.00 o’clock of 7th October 1973, flew through the missile screen and hit a number of radar sites and airfields near the Canal and in the Nile Valley. They returned to their bases to refuel and rearm before launching massed attacks on the Egyptian missile umbrella in the Suez Canal zone. At this point they were abruptly switched back to the Golan front by Moshe Dayan (Israeli Defense Minister) (Dunstan, 2003). By October 7th, 1973 at 08.00hours the Egyptian Army consolidated their bridgeheads. Five division strength bridgeheads were coordinated into two of army strength. Each was more than six miles deep. Egyptian Army held almost all of the Bar-Lev Fort except two, the furthest north and the furthest south (Shazly, 1980).

          Meanwhile the Israeli army were regrouping and defending the area around Gidi and Mitla passes The speed shown by the Egyptian engineers in breaching the sand rampart, spanning the bridges, and repairing the bridges when it was being bombarded by the Israeli aircrafts preserve the Egyptians line of communication and logistics. This event create the Israelis in surprise and confusion because their pilots were reporting a successful air attack on the bridges but suddenly the next hours the bridges were seen again .

          FM 3-90.12, Combine Arms Gap Crossing Operations, lists speed among the five gap crossing fundamentals and define speed as “ in the context of a deliberate or a hasty crossing, is focused on the execution of the crossing itself, not necessarily on the rapidity of getting to the gap. Rather, it is focused on the speed of execution and not allowing crossing units to be defeated by the enemy” (FM 3-90.12, 2008, pp. 2-7). The commander that executing gap crossing operation must achieve speed in the overall execution whether by maintaining the tempo of the operation, rapidly breaching the obstacle on both side of the gap, rapidly spanning the bridges, using a flexible easily maintained bridges, and executing a bold action on repairing the bridges. Israeli land combat Communication system depended almost totally on full-scale mobilization before a conflict to provide proper organization and assets. When Israel had to mobilize in a state pf near chaos, its command and communication structure broke down. Not only did its chain of command break down, but key personnel, like artillery observers, never reached their proper unit and “blinded” an army C3I system that was almost entirely dependent on human eye. (R.Wagner, 1990, pp. 49-50).

      Israeli lack of effective, secure and redundant land combat communication system that easily been disrupted by the Egyptian lead Israeli 252nd AD reserve brigades to move without visualization of the battlefield and being channeled into the Egyptian killing zone. Therefore the Egyptians were able to defeat the 252nd AD reserve brigades, solidify the bridgeheads, ambushing and repelling the Israeli Counter attack.

      This lesson is captured in United States DOD Joint Doctrine. Joint Publication (JP) 6-0, Joint Communication System, defines effective communication system as “the capability to rapidly adapt to changing demands; to provide information that is needed (the right information); where needed (the right place); and when needed (the right time), protected from interception and exploitation and presented in an actionable format. By meeting these fundamental objectives, the communications system allows joint forces to seize opportunity and meet mission objectives” (Joint Publication (JP) 6-0:Joint Communication System, 2010, pp. X,para 2) . The commander must established a fast and secure communication system that integrated into the structure of command and control. Furthermore, a commander must preserve a backup communications system to develop redundancy so that it would not be easily being disrupted by the enemy. Summary The Egyptian victory at seizing the Suez Canal reestablished the Egyptian Army dignity in the knowledge that the crossing of the Canal had been an operation of great skill and courage. The keys to the Egyptian success lay in the commander’s mastery of surprise and speed fundamentals despite the Israeli lack of secure, fast and redundant communication system. Shazzly used these fundamentals to develop an unprepared condition on the Israelis, tear down their command structure and preserve the line of communication to not be easily defeated by Israeli aircraft attack. The victory also led to substantial political gains by breaking the political log jam and thus succeded in wider strategic aim by securing Egypt first an interim agreement on Israeli withdrawal from the Sinai and finally a peace treaty that returned the entire area of the peninsula in April 1982 (Dunstan, 2003, pp. 92,para 3).

Works Cited

Dunstan, S. (2003). The Yom Kippur War 1973 (2) (Vol. 2). (L. Johnson, Ed.) Great Britain, United Kingdom:

Osprey Publishing. Gawrych, G. W. (1996). The 1973 Arab-Israeli War:The Albatross of Decisive Victory. Leavenworth Paper.

 O'Balance, E. (1978). No Victor No Vanguished, The Yom Kippur War. San Rafael, California: Presido Press.

 R.Wagner, A. H. (1990). The Lesson Of Modern War (Vol. 2). Central Avenue,Boulder, Colorado, USA: Westview Press, Inc., 5500.

Shazly, L. G. (1980). THE CROSSING OF THE SUEZ. San Fransisco: American Mideast Research.

U.S. Department of the Army. (2008). Combined Arms Gap-Crossing Operations. Washington: GPO. U.S. Department Of Defense. (2010).

Joint Publication (JP) 6-0:Joint Communication System. Washington: GPO.  

Add a comment
Last Updated on Thursday, 29 July 2010 04:02
 
What's Right about Islam PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 12 September 2010 17:33


Browse Inside this bookGet this for your site

Browse Inside this bookGet this for your site

Browse Inside this bookGet this for your site

Browse Inside this bookGet this for your site
Add a comment
Last Updated on Sunday, 12 September 2010 18:06
 
Warfighting function PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 25 July 2010 06:07

Until today, we always use Battle field operating system (BOS) which are consist of Intelligent, Operation, Personnel, Logistik the main function of battlefield. But, when we were trying to integrate these functions into combat operational synchronization, that didn't work. Then there is an Army in a country change the BOS into warfighting functions which consist of Intelligent, Maneuver, Protection, Security, Command Control, Sustainmnent, Leaderships, and Information, welll....Its work! So.. why don't we change also?

Add a comment
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2